05
Okt
08

Film Lokal atau….Film Hollywood??

Film…

sapa sih di sini yang gak pernah nonton film sekali pun seumur hidupnya?? Kita semua pasti pernah donk yang namanya nonton film mulai dari tv, bioskop, bahkan sampai ke kelasnya nonton film melalui dvd player.

Sejarah Film dan Bioskop Di Indonesia…

BULAN September 1926, Harian De Lecomotif menulis, “Inilah film yang merupakan tonggak pertama dalam industri sinema Hindia sendiri, patut disambut dengan penuh perhatian.”

Film yang dimaksud oleh De Locomotif itu adalah “Loetoeng Kasaroeng”. Sebuah film lokal Indonesia yang diproduksi oleh NV Java Film Company pada tahun 1926. Sebelumnya, pada bulan Agustus di tahun yang sama, De Locomotif juga telah menulis, “Pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priayi yang berpendidikan. Pengambilan film dilakukan di suatu tempat yang dipilih dengan cermat, kira-kira dua kilometer sebelah Barat Kota Padalarang.”

Dan pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927 untuk pertama kalinya “Loetoeng Kasaroeng”, film lokal pertama yang menjadi tonggak industri sinema di Indonesia itu, diputar di Bioskop Majestic, Jalan Braga Bandung.

Bioskop Majestic, pada masanya dibangun sebagai bagian yang terpisahkan dari kawasan Jalan Braga. Sebuah kawasan belanja bergengsi bagi para Meneer Belanda pemilik perkebunan. Bioskop ini, didirikan untuk keperluan memuaskan hasrat para Meneer itu akan sarana hiburan di samping sarana perbelanjaan.

Bioskop itu didirikan pada awal dekade tahun ’20-an dan selesai tahun 1925 dengan arsitek Prof. Ir. Wolf Schoemaker. Seorang arsitek terkenal yang jejak karyanya di Kota Bandung masih berdiri dengan kukuh, sebutlah Gedung Asia-Afrika, Gedung PLN, Masjid Cipaganti, Preanger hingga Gereja Katedral di Jalan Merdeka.

Tentang suasana tontonan di bioskop Majestic pada sekira periode tahun 1920-an itu, pemutaran film didahului oleh promosi yang menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota membawa poster film dan membagikan selebaran. Ketika itu kedatangan kereta kuda itu sudah menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 dan 21.00. Sebelum film diputar di pelataran bioskop Majestic sebuah orkes musik mini yang disewa pihak pengelola memainkan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian.

Menjelang film akan mulai diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja pada pertengahan tahun 1920-an itu film masih meruapakan film bisu.

Pada masa itu, sopan santun dan etiket menonton sangat dijaga. Di bioskop majestic tempat duduk penonton terbagi dua, antara penonton laki-laki dan perempuan, deret kanan dan kiri.

Kegemilangan Oriental Bioskop terus bertahan hingga masa kemerdekaan. Namun memasuki periode 1980-an, kejayaan bioskop yang menjadi bagian dari sejarah kelahiran film Indonesia ini mulai terasa surut. Munculnya konsep yang ditawarkan oleh bioskop cineplex, di mana penonton bisa memilih film yang ingin ditontonannya, adalah salah satu sebabnya.

Genre Film…
     Berbicara soal genre atau jenis film saat ini, kita di suguhkan oleh berbagai macam jenis film, ada yang bertemakan cinta, horor, komedi, action, sampai ke sc fi (fiksi). Kebanyakan orang lebih menyukai film yang bertema kan tentang cinta, horor, dan action. Namun dak sedikit juga kita yang memilih film yang bertemakan komedi dan fiksi.
     Perfilman Indonesia sedang di landa oleh film – film yang bertemakan religi, contohnya Ayat – Ayat Cinta yang di adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Lalu ada lagi film yang bertemakan tentang cinta remaja, contoh Chika. Ada juga film Indonesia yang bertemakan komedi, seperti Maaf, saya menghamili istri anda.
Film Lokal atau..Film Hollywood??
     Bangkitnya sineas – sineas muda perfilman kita saat ini patut kita acungi jempol untuk karya – karya mereka. Sebagai contoh baru – baru ini, Riri Riza baru ajah sukses dengan film terbarunya yang di adaptasi dari novel karya Andrea Hirata dengan judul yang sama, yaitu ; Laskar Pelangi.
     Gak bisa dipungkiri bahwa sineas – sineas muda perfilman Indonesia memberikan kontribusi yang sangat besar dalam memajukan perfilman dalam negeri. Tapi kebanyakan tema perfilman yang di angkat oleh mereka masih berbicara tentang cinta, horor, dan komedi (yang mungkin rada garing). Meskipun demikian film – film Indonesia masih banyak banget kok peminatnya.
     Lain halnya dengan para film maker yang berasal dari perfilman dunia yaitu Hollywood. Banyak banget film berkualitas yang mereka sajikan, mulai dari jalan cerita yang susah di tebak, teknik sinematografinya, visual efek yang di gunakan, sampai aktor dan aktrisnya yang emang lebih familiar buat kita.
     Ada beberapa alasan kenapa kita lebih milih untuk menikmati film luar negeri atau Hollywood ketimbang film dari negeri sendiri. salah satunya adalah film negeri sendiri terlalu mengangkat tema yang monoton, di saat lagi musim tema horor, para sineas kita cenderung untuk membuat film horor yang setipe yang justru jatuhnya menampilkan film horor yang nanggung baik dari segi jalan ceritanya sampai penokohannya. Lain halnya dengan film dari Hollywood, mereka justru lebih menampilkan sesuatu yang fresh untuk para penontonnya, mulai dari jalan cerita sampai teknologi yang mereka gunakan di film tersebut.
     Banyak film – film Hollywood yang di adaptasi dari komik yang menampilkan karakter – karakter superhero. Namun tidak sedikit karakter – karakter yang di adaptasikan ke layar lebar justru menuai hasil yang mengecewakan. Sebagai contoh film Elektra. yang pemutarannya di pasaran justru floop abis!
     Film Hollywood hasil adapatasi komik yang di angkat ke layar lebar yang suskes di pasaran salah satunya adalah Iron man. Film yang berbudget sangat wah ini dalam pemutaran perdananya (3 minggu) menghasilkan keuntungan yang wah juga. Dengan menggunakan teknologi perfilman yang mungkin masih sangat susah buat di terapkan di perfilman Indonesia sendiri.
     Masyarakat kita sendiri pun, khususnya anak – anak muda lebih cenderung memilih untuk mereka menonton film – film buatan luar negeri di bandingkan film buatan anak bangsa. Dengan alasan film Indonesia saat ini memiliki alur cerita yang itu – itu ajah.
     Semuanya itu tentu ajah balik lagi ke selera kita sebagai penikmat film. Kita mau milih nonton film buatan anak bangsa atau kita lebih seneng untuk nonton film Hollywood.
     Nah…kalo kamu gmana nih lebih seneng nonton film lokal atau film hollywood??
leave ur comment to us, ur opinion about our topic! okey??! thanx a lot for visit us!

teks : kamen@2008


3 Responses to “Film Lokal atau….Film Hollywood??”


  1. 1 nje18
    Oktober 20, 2008 pukul 3:40 am

    BUAT SAYA SICH SAMA AJA….MAU FILM LOKAL KEK, MAU FILM LUAR KEK, KALO FILMNYA KACANGANAN ENGGA AKAN SAYA TONTON……MENURUT SAYA BANGKITNYA SINEAS PERFILMAN INDONESIA KEMBALI SEJAK MUNCULNYA FILM PETUALANGAN SHERIANA MEMBUAT KEMBALI BERGAIRAH PERFILMAN DI INDONESIA, YANG MUNGKIN DAH BOSEN DENGAN FILM BERTEMA ESEK -ESEK DIERA 80AN HINGGA 90AN….KITA ENGGA USAH BERKIBLAT DULU DECH KE HOLLYWOOD SEBAGAI ACUAN, GIMANA KALO KITA NGACA DULU KE KE INDUSTRI PERFILMAN HONGKONG YANG SETIAP TAHUN MEREKA BEREVOLUSI MENJADI LEBIH BAIK…..MAAF SEJAK ADANYA GAIRAH PERKEMBANGAN FILM DIINDONESIA, YANG SUDAH BAIK DIRUSAK KEMBALI DENGAN BANYAK FILM – FILM YANG MAAF MENURUT SAYA SANGAT MEMAKSAKAN…..HANYA BEBERAPA FILM SAJA YANG MENURUT SAYA PATUT DIACUNGIN JEMPOL……NAH BUAT PARA SINEAS MUDA, JANGAN TERPATOK DONG DENGAN TEMA YANG ITU -ITU AJA…..BAHKAN SEKARANG SUDAH HAMPIR KEMBALI KE ERA 90AN DENGAN FILM YANG MENYODORKAN NAMA FILMNYA DENGAN BAU ESEK – ESEK YAN KENTAL….MAKA AYOOO BANGKIT INDONESIA….JADIKAN KITA BERJAYA DI DUNIA INTERNASIONAL DAN JADI RAJA DI NEGRI SENDIRI..

    MUNGKIN KALO MAU JALAN – JALAN TRUS ISENG MAMPIR KE BLOG SAYA DI http://WWW.ULASFILM.WORDPRESS.COM

    TERIMA KASIH

  2. 2 Zee
    Januari 17, 2009 pukul 1:03 pm

    Tul banget tu banng.. saya setuju sekali…. saya kira Film2 indonesia seperti film ikut2 ato istilahnya ngekor gituh…, contohnnya: lok da satu film bertema horor (misal), keluar, dan mbuming, maka yang lainya juga akan ngikut2 juga buat film yang bertema sama hanya dipolesin dikit biar berbeda…..
    Dan sampai saat ni saya ga’ pernah ngeliat film indonesia yang bertema eksyen hampir semua, lok horor ya percintaan…. mungkin sih masalahnya pada dana ato para kreator/animatornya masih kurang sehingga spertinya ga ada arah kesana….
    tapi bagaimanapun saya berharap perfilman indonesia tetap terus maju dan lebih berkembang lagi pastinya….

  3. 3 Faisal Twuska
    Februari 22, 2009 pukul 7:35 am

    Hai Kenalin nama saya Faisal. menurut saya sih…, perfilman Indonesia memang masih jauh kurang berkualitas dibandingkan dengan film-film luar negeri. salah satunya kekurangan di segi penguasaan teknologi. namun saya juga berharap, supaya perfilman indonesia bisa tambah maju. dan saya juga kadang-kadang bertanya pada diri sendiri, “KAPAN YA INDONESIA MEMBUAT FILM FANTASI?!” APAKAH ADA YANG BISA MENJAWAB?….
    Mungkin jawabannya “KAPAN-KAPAN”!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: