Archive for the 'music is passion' Category

11
Feb
09

Musisi Legendaris yang gak pernah dapat Grammy

The Doors

The Doors dikenal sebagai group musik yang sangat kontroversial. Selain Jim Morrison meninggal pada 3 Juli 1971, ketiga personel yang tersisa tetap meneruskan nama The Doors hingga 1973. Selama 8 tahun berkarir di dunia musik, mereka tidak pernah sekalipun meraih Grammy.

thedoors

Queen

The Gunnies Book of World Record pada tahun 2005 menyebutkan lagu – lagu Queen berada di chart musik Inggris selama 1,322 minggu atau sepanjang 27 tahun.

queen_band

Diana Ross

Dua Belas kali masuk nominasi Grammy Awards, tapi selama itu pula Diana Ross tidak berhasil mendapatkan satu pun penghargaan. Album – albumnya sudah laku ratusan juta kopi. Namun satu pun dia tak pernah meraih Grammy.

diana-ross-blue

sumber : Sindo (10/02/09)

23
Okt
08

“Honeymoon on ice” with The Trees & The Wild..

Satu lagi nih band indie yang kehadirannya patut di perhitungkan di blantika musik Tanah Air.

Boys and girls please welcome….

THE TREES & THE WILD

Folk dan Etnic…

The Trees and The wild :

  • Remedy Waloni (vocals, acoustic guitar)
  • Iga Massardi (Electric giutar)
  • Andra B. Kurniawan (Acoustic giutar, bass)

Band yang terbentuk dari pertemanan semasa SMA ini pada pertengahan tahun 2001 yang di pelopori oleh Remedy Waloni dan Andra B. Kurniawan, yang dimana pada saat itu mereka tergabung dalam satu band dengan aliran musik jazz. Tapi, Andra dan Iga sebelumnya sudah bermain musik bersama. Musik The Trees and The Wild hadir dalam format electric acoustic dipengaruhi oleh unsur musik folk dan musik etnic dunia..hum..perpaduan yang tampak jarang di lirik oleh band – band lain ini justru membawa berkah tersendiri bagi The Trees and The Wild.

Berlin…

Seiring berjalannya waktu, entah karna jodoh dalam bermusik atau entah apalah itu namanya, mereka (Remedy dan Andra) bertemu lagi di sebuah acara kampusnya Remedy. Usut punya usut pada bulan November 2006, mulai lah terjadinya cikal bakal The Trees and The Wild.

Berlin adalah lagu pertama yang di ciptakan oleh The Trees and The Wild, setelah Iga Massardi bergabung melengkapi formasi The Trees and The Wild.

Dengan jam terbang yang memumpuni dari satu tempat ke tempat peform yang lain, akhirnya mereka memustuskan untuk masuk ke studio untuk merekam beberapa lagu yang sering mereka bawakan secara live. Diantaranya ; Berlin, Malino, Honeymoon on ice, dan Fight The Future. Ada yang unik dari ke empat judul lagu mereka tsb, yaitu Malino. Yap, lagu ini adalah satu2nya lagu yang liriknya menggunakan bahasa Indonesia.

Uniq..

Kalau setiap band selalu membawa sebiah konsep pada saat mereka manggung, lain halnya dengan The Trees and The Wild, justru konsep manggung mereka adalah “gak ada konsep”, kata Iga. Yang di maksud disini adalah mereka bersifat on the spot, kalo mereka mau gila2an di atas stage, mereka akan gila2an.

musik..

Musik bagi mereka udah menjadi bagian dari kehidupan mereka. “part of my life”, kata Remedy yang di aminin sm Andra. Tapi beda nih arti musik yang ada di pemikiran Iga. Bagi Iga musik adalah indera ke-enamnya. Dimana kita manusia diberi 5 indera yang saling membutuhkan, dimana musik adalah indera ke enam untuk melengkapi ke lima indera yang udah ada. Well nice dude!

Album..

Berbicara soal album, The Trees and The Wild bercerita ttg kehidupan yang bersumber dari pandangan mereka. Sampai saat ini, proses pengerjaan album mereka sudah berjalan 60% sisanya hanya tinggal mengarasemen lagu2 mereka yang lain. Bulan Februari 2009 mungkin adalah bulan yang mereka tunggu2..bukan hanya personil The Trees and The Wild, tapi juga oleh para penggemar mereka nih, yang kalo kamu liat di my space The Trees and The Wild ada yang sampe di Hongkong loh! mangstap!

Bernaung di bawah bendera Lil Fish Record, The Trees and The Wild siap menjadi pioner indie!

3 kata..

Mau tau apa kata masing2 personil ttg band mereka??

3 kata untuk mengapresiasikan The Trees and The Wild?

Andra say : Akustic, musim salju, seru

Remedy say : Eklektic, senja, klimaks

Iga say : Florida, Roma, Alaska

Well…that’s The Trees and The Wild..dengan segala keunikan dan ke”senjaan” mereka.

penasaran sm musik dan kualitas The Trees and The Wild??

mari mari di dengar kan karya mereka yang ciamik! di www.myspace.com/thetreesandthewild

teks : kamen

foto : thetreesandthewild doc

                

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

09
Okt
08

The Glasses…

Suka musik dari jalur indie? atau kamu bosen nih dgn band indie yang itu2 ajah? eit! ntar dulu donk..sepeerti kata pepatah..”mati satu, tumbuh seribu”

Anak muda Indonesia emang gak ada matinya kalo soal urusan musik. Segala jenis musik ada di Indonesia. Nah, dunia musik di jalur indie punya “new kids on the block nih” alias anak baru. Sapa sih??

THE GLASSES

Band yang tebentuk pada tahun 2005 ini dengan formasi awal Bayu (vocal, gitar, piano), Mudito (vocal, gitar), Irfan a.K.A. Ipung (bass), dan Dimas (drum, backing vocal) memilih nama The Glasses sebagai bendera mereka dalam bermusik. Tapi srkg The Glasses terdiri dari Bayu (vocal, gitar, piano), Mudito (vocal, gitar).

Berikut nih ada petikan wawancara singkat dengan Bayu The Glasses. Aneh tapi nyata, bukan lewat telpon, buka face to face, tapi lewat dunia maya by Yahoo Messenger alias YM.

Lifestyle (LS) : asal muasal nama The Glasses?

Bayu Pahala (BP): karena dua dari empat personil pake kacamata. gw, dito, dulu ada Ipung.

LS : jd karna kesamaan fashion tsb, maka nama band kalian adalah The  

       Glasses?

BP : yap.

LS : jenis musik nih yg di bawain sm The Glasses?

BP : masing2 dari kami punya aliran musik yang beda2, kayak ditto

        melodinya ke arah  rock n roll n blues, sedangkan vokal gw lebih ke

        pop alternative, dan akhirnya lagu kami bisa disimpulkan pop

        alternative.

LS : jadi di musik The Glasses sendiri ada perpaduan antara blues dan pop?

BP : yup, tp orang bilangnya sech pop alternative.

LS : siapa ajah si personil The Glasses? ada auditional nya gak di setiap

       kalian perform?

BP : dulu kami berempat, gw dito, ipung n dimas pada drum, tp seiringnya

        waktu 2 orang  terakhir memngundurkan diri, jadi kami berdua setiap

        kali rekaman. Kalo tampil kami punya additional player.

LS : udah punya album atau gmana gt? EP misal kan?

BP : baru coba buat pasarin, kita mau cari cara yang jitu buat pemasarannya

        untuk sekarang masih myspace. http://www.myspace.com/theglasses13.

LS : refrensi The Glasses dalam bermusik siapa?

BP : kami banyak mencontoh the beatles, eric clapton n dewa19

LS : knp nih lw memasukan dewa19 dlm refrensi lw?

BP : sebenernya musisi2 yang kami suka itu musisi2 yang nada di lagunya

        tuch everlasting, dewa19 dengan “kangen” mau diputer 20 tahun lagi  

        nada lagu kangen tetep enak, begitu juga the glasses ingin mencontoh 

        apa yang mereka buat.

LS : ciri khas dari The Glasses sendri apa nih? apa yg mau di jual dari The

        Glasses?

BP :  kami punya lagu yang enak dan bisa didengerin pada saat kapan pun,

         pas falling in love kita punya, pas patah hati kita juga ada, jadi kita

         punya lagu2 yang bisa jadi ost. bagi para pendengarnya. Itu yang kami

         pengen jual dari The Glasses.

LS : maksudnya menjadi ost.?

BP : soundtrack, dalam masa2 hidup kita, pas kita sedih lagu kami bisa

        nemenin, pas seneng2 ada juga kami punya.

LS :  kalo dalam perform, ada gak hal2 yang berkesan buat The Glasses?

BP : dulu pernah kami manggung di acaranya mustopo, emang itu

        konsepnya valentine, trus sebelum kita maen lagu pertama, mc nya

        bilang “the glasses pasti mau nyanyin lagu yang melo bgt dech” trus gw

        nanya knapa, dia jawab” abis muka vokalisnya mellow bgt”. Abis itu

        gw diketawain ama yang dateng.

LS : huhahahaha..gokil juga yah tu MC.

BP : emang gila bgt tuch

LS : kalo buat the glasses sendiri arti MUSIK tuh apa? sejauh apa peran an

        musik buat the glasses?

 BP : musik itu sebenernya semacam ekspresi seseorang yang disajikan

        dalam bentuk alunan nada, dan musik jelas bgt berperan buat kami,

        kami melakukan ini bukan semata mata demi uang atau ketenaran

        semata, tp karena kami cinta music itu sendiri

LS : uang dan popularitas sebagai bonus yah?hehehhe

BP : pelengkap aja..hahaha…wanita yang pertama.

LS : kalo di kasi kesempatan kolaborasi, The Glasses mau sm siapa? dari

        major or indie label?

LS : kalo major jikustik, dewa n padi, kalo indie the chancuters, white shoes

        n blablabla, terus yang baru sore band kali yach..

LS : arti pembajakan buat The Glasses? lawan apa kawan?

BP : lawan dong jelas.

LS : knp tuh?

BP : kalo indie jelas pembajakan jadi musuh utama bgt coz pemain band

        sendiri yang merasa dirugikan karena dagangan musicnya gak laku.

BP : kalo major khan yang rugi bgt producer.

LS : lebih milih mana major apa indie? andaikata nih major ngajakin gabung

        dgn uang yang wah!

BP : hmmm major dong, coz mereka punya straregi pemasaran yang ok

        punya.

LS : bukan tergiur karna uangnya nih??hehhehe

BP: bukan tp yang bisa kita dapetin tuch marketing yang ok buat music kita,

       Untuk pemusik awal kayak kami sech indie bagus.

Penasaran sm The Glasses?? contact ajah mereka, Bayu (081381515045), atw Mudito (08131010207).

Mau denger karya – karya The Glasses? log on ke www.myspace.com/theglasses13

for download The Glasses  songs

http://www.kitaupload.com/download.php?file=923The%20Glasses.rar

 

                  Bayu Pahala

                      Mudito

          The Glasses @ avant garde

The Glasses @ Recis pensi

foto : doc.theglasses

teks : kamen@2008

             

 

08
Okt
08

Asal usul Piano

Piano : Merajai Dunia Selama 300 Tahun…

(Erabaru.or.id) —Cao Quanen adalah pria teknisi mixer piano keturunan Tionghoa, asal Qingdao, Tiongkok, yang sekarang menetap di Melbourne, Australia. Sejak kanak-kanak ia menyukai piano dan penggemar musik klasik. Pada awal 80-an, kali pertama ia mendirikan sekolah gitar amatir privat di Qingdao dan pernah berguru mentuning dan service piano pada teknisi mixer Chao Huanan dari bagian reparasi pabrik piano Xing Hai Beijing.

Awal 1991 bekerja pada perusahaan Nelson Dorizac Piano di Wellington, Selandia Baru, menjabat sebagai teknisi mixer hingga 8 tahun lamanya. Pada masa itu ia memperoleh sertifikat teknisi mixer piano dengan status diakui di Selandia Baru. Pekerjaan teknisi mixer piano adalah impian Cao sejak muda. Ia memiliki sebuah motto: “Tergila-gila oleh piano”. Dari sini terlihat kecintaannya terhadap piano….

Tempat Lahirnya….
Piano sejak 1709 diciptakan di Italia telah melewati kurun waktu perkembangan 3 zaman, yakni: piano kuno, model Victoria dan piano modern.

Mereka masing-masing telah melewati masa perubahan sejarah selama ratusan tahun. Selama beberapa ratus tahun tak henti-hentinya dimodifikasi. Maka itu yang nampak di depan mata kita ialah piano yang kadangkala datar, terkadang berdiri tegak, kadangkala empat persegi panjang, lalu balik lagi menjadi model bersayap.

Ia pernah digabung bersama dengan meja tulis, ranjang, bahkan dengan mesin jahit. Sesudah direvisi selama 100 tahun sejak diciptakannya, ia baru secara mendasar berbentuk permanen.

Piano benar-benar bagaikan seorang bintang yang tak mau ketinggalan mode zaman. Tak peduli gaya Barok yang anggun dan tegas, atau klasikisme yang gagah dan unik, tak peduli suara yang bebas lepas dan menonjolkan romantisme pribadi, ataupun sampai aliran impresionisme yang anti tradisi dan mengejar cahaya dan warna, piano benar-benar kompeten untuk segalanya.

Apabila tidak ada dia, mana ada musik dalam ruangan? Lebih-lebih lagi tak bakal ada hasil karya hebat dari guru besar musik seperti: Mozart, Hayden, Beethoven, Schubert, Schumann, Mendelssohn, Brahms dan lain sebagainya.

Tak ada piano, bagaimana musik modern diciptakan? Lagu-lagu pop bagaimana dipopulerkan? Selama 300 tahun ini, ia senantiasa adalah bintang yang tak mau di-stereotype-kan. Bersamaan dengan mengkreasinya juga umat manusia telah dikreasi. Tak perlu diragukan lagi, kelahiran piano adalah penunjuk jarak (mile stone) penting dari sejarah musik umat manusia.

Nama piano berasal dari bahasa Italia. Sekitar tahun 1709, ada seorang perajin alat musik bernama Bartolomeo di Francesco Cristofori dari keluarga Florence-Medici. Ia mencari alat musik yang bila dibandingkan dengan piano primitif bersenar (disebut harpsichord), lebih bisa mengekspresikan perasaan, yakni yang keyboardnya bisa sesuka hati mengeluarkan suara kuat dan lemah.

Kala itu piano memiliki sebuah nama yang belum permanen, setelah berselang 1 abad baru memiliki sebutan Piano seperti biasa kita sebut.

Cristofori pada mulanya menggunakan perangkat mekanik yang bunyinya ditimbulkan dengan memukul dengan palu pada senarnya, itu sesuai prinsip mesin escapement supaya suara piano lebih memiliki ekspresi, tingkatan suaranya lebih kaya, dan dapat langsung melalui tekanan tuts piano oleh jari jemari dalam pengendalian suaranya.

Setelah itu pada mesin prototipnya dipasangi lagi sistem pengungkit peredam getaran agar kecepatan pukulan senar 10 kali lebih cepat. Agar keyboard bisa menyambung dengan speed cepat dan wilayah suara juga bisa ditambah hingga 8 derajat sebanyak 4 kali, dari situ terciptalah bentuk piano modern.

Satu abad sesudah piano pertama diciptakan oleh Cristofori, piano model kuno harpsichord masih saja memimpin posisinya di panggung. Tetapi peran pimpinan ini lambat laun digantikan oleh instrument key board, yakni symbol dari piano modern.

Yang sangat disayangkan ialah, Italia sebagai pusat seni yang telah menyediakan panggung akbar bagi kejayaan musik dunia ini, malah bersikap seolah tuli terhadap suara alat musik keyboard yang paling ekspresif ini. Bahkan pada akhirnya hanya dingin-dingin saja.

Hingga saat ini Cristofori adalah orang pertama dan sekaligus orang terakhir penemu piano Italia. Piano telah berkembang pesat di manca negara.

1730, F. Silberman mempelajari perangkat equipment key board ala Cristofori dan berhasil mencipta piano yang pertama. Enam tahun kemudian sesudah si tua Johan Sebastian Bach telah dua kali meneliti piano Silberman, akhirnya menemukan “gebukan tongkat”.

Maksudnya ialah tekanan/ketokan palunya terlalu berat dan wilayah suara tinggi terlalu keras. Kata bijak didengar telinga, Silberman bersedia menampung usulan Bach.

1747, ia bersama 12 murid-muridnya yang terkenal, telah mencipta dua buah piano pemukul senar yang berlainan gaya yakni gaya Wina dan Inggris. Dua aliran besar ini, masing-masing secara terpisah berpengaruh akan kandungan makna sejarah terhadap komponis waktu itu.

Sumbangsih utama perubahan piano kala itu ialah dengan adanya penggunaan damper. Penambat-suara manual yang dipasang untuk piano mampu menggerakkan damper lepas dari senarnya.

Ini yang membuat corak suara/timbre piano memiliki semacam warna misterius. Karakter semacam ini pada piano saat ini dengan cepat dan tangkas dikendalikan dengan mempergunakan kaki.

Susah dibayangkan ketika itu masih menggunakan tangan. Melalui perubahan terus menerus, keunggulan piano di dalam pengendalian volume suara lambat laun semakin menonjol.

Sesudah 1760, nasib piano telah mengalami perubahan dramatis, semakin banyak saja para komponis yang memasuki barisan komponis piano, semua orang telah ditaklukkan oleh daya tariknya yang khas. Piano mulai melangkahkan kakinya memasuki salon pribadi yakni kehidupan masyarakat umum. 1763 di Wina, mulai diadakan pertunjukan piano secara terbuka. (Cao Quanen/The Epoch Times/whs)

Source: http://www.erabaru.or.id/k_01_art_981.html